“KEHIDUPAN HAKIM MERUPAKAN SEBUAH KONTROVERSI”

“Pada satu sisi Hakim mempunyai fungsi dan tugas yang sangat mulia, sehingga seolah-olah seperti wakil Tuhan di bumi. Pada saat yang bersamaan, disisi yang lain, Hakim adalah tetap manusia biasa yang bisa khilaf, keliru dan salah. Kehidupan Hakim merupakan sebuah kontroversi”, papar Ketua Muda Pidana Khusus Mahkamah Agung, Iskandar Kamil dihadapan peserta Rakernas, Selasa (5/8).

Fungsi dan tugas Hakim adalah mengadili, yang memberikan kewenangan dan kekuasaan yang sangat besar kepada Hakim yaitu memberi keadilan. Dalam kekuasaan yang dimilikinya terkandung unsur kelalaian, sesuai amanah nenek moyang kita, bahwa “kuoso iki nggendong lali” atau “power tend to corrupt”. Hal itu termasuk juga kekuasaan yang dimiliki oleh Hakim beserta personil Pengadilan lainnya. Dari sifat hakekat kekuasaan tersebut dalam pelaksanaan fungsi dalam tugas Hakim, terdapat potensi terjadi penyimpangan, yang dapat berupa perbuatan tercela, kekeliruan tehnis serta pelanggaran hukum, ungkap Iskandar Kamil.

Dalam paparannya, beliau juga menegaskan, bahwa untuk mendukung para Hakim agar dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya, mengiliminir kefanaannya dan menangkal segala bentuk intervensi, perlu dilakukan upaya-upaya antara lain : pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang sepadan, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung pelaksanaan tugas, pendidikan dan pembinaan yang cukup, norma-norma baku dan ketentuan-ketentuan mengenai hak dan kewajiban, perlindungan atas pelecehan tugas hakim, pengawasan sebagai suatu sistem control, pembebasan dari tuntutan ganti rugi karena adanya kesalahan dalam perbuatan yang merupakan pelaksanaan tugasnya dalam bidang peradilan, penghargaan bagi yang telah melaksanakan tugas dengan baik dan sanksi bagi yang melakukan pelanggaran serta meningkatkan budaya hukum masyarakat.

Selain membahas tentang hal-hal tersebut diatas (jati diri Hakim), dengan lugas dan tegas disertai dengan “joke” yang membuat peserta tidak mengantuk, dipaparkan juga tentang kedudukan Hakim, Tri Prasetya Hakim Indonesia, azas kekeluargaan, kode etik profesi Hakim, pedoman perilaku Hakim serta konsep program sosialisasi pedoman perilaku Hakim.

Pedoman Perilaku Hakim telah disahkan oleh Ketua Mahkamah Agung dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 104 A/SK/XII/2006 tanggal 22 Desember 2006 dengan Petunjuk Pelaksanaan dan Penegakan Pedoman Perilaku Hakim sebagaimana tercantum dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 215/KMA/SK/XII/2007 tanggal 19 Desember 2007.

Diakhir paparannya, Iskandar Kamil menegaskan; “ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam pedoman perilaku Hakim, sebagian telah diatur dalam berbagai peraturan perundangan. Namun semua rumusannya sudah diatur dalam ajaran agama, sehingga bagi yang telah mengamalkan ajaran agama sebenarnya dengan sendirinya sudah mengamalkan pedoman perilaku Hakim. Jatidiri Hakim hanya dapat dipertahankan oleh para Hakim sendiri dengan menjaga martabat dan kehormatannya”.(Tim Rakernas 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: